Puisi Hati

Showing posts with label hujan. Show all posts
Showing posts with label hujan. Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Perempuan Hujan


Hari belumlah senja dan hujan turun tanpa aba aba, seperti panah pecah dipunggung jalan raya..
Dinginnya menjarah udara, menelusup pintu jendela
Tlah sampai pula dinginnya pada batu, menghanyutkan luka sampai kehulu..

Hujan tetap gemrisik daun daun terosak asik, meniti dahan melati, menjatuhkan sepi, menumbuhkan rindu pada perempuanku
Ia perempuan yang biasa bermain dengan hujan, menyimpannya dalam sepotong cerita, ia yang slalu menghangatkan hati, tiap kali kutatap dari matanya terbit matahari..

Dijalan hujan masih beradu suara dengan roda roda, dan aku diam menghayati sepinya jiwa, sebab senyumnya masih berlari lari dibola mata, duduk terpaku diguyur hujan rindu pada perempuanku
Hujan perlahan menuruni dahan dahan, mengembun pada pipa pipa disamping jembatan, dan aku slalu melihat senyummu dalam tiap tetesnya, entah sudah keberapa ribu kalinya ” aku hujan dan kau awan dua bagian yang saling bertautan ” demikian ia berkata sembari melempar senyumnya….

Monday, October 31, 2011

hujan pagi

Hujan mericis,pagi ini.
Garis garisnya patah di ujung tanah.
Membasahi tandus menumbuhkan daun
Mentari malu lalu sembunyi,di balik gugusan awan.

Maka biarkan hujan menyuarakan rinainya.
Menyejukkan nurani.
Membasuh sukma,dan menumbuhkan murni cinta.
Hingga aku terdampar di atas batu.

Menyelami angin pagi,menemukan damai hati.
Dan biarkan aku berbaring di sela sela bunga bunga.
Merenangi harum kudusnya,membasuh jiwa dengan kasihnya.

Menyepuh mata dengan indah langitnya.
Melepas semua,letihnya raga.
Ah kupinta bunya yang sederhana.
Kelak kan kusematkan di hati yang terkasih.

Bukan bunga yang terindah,
sebab yang terindah milik sang kumbang raja.
Sedang aku hanya peminta,yang kadang amat durhaka.
Yang tak pernah puas dengan 1 atau 2 bunga,bahkan segenggam permata.

Saat taman terlelap,prajurit itu tetap terjaga.
Menjaga bunga bunga dengan busur cahaya.
Ia meliuk liuk merenangi lautan malam.
Sesekali ia berkedip,sembari melempar sinarnya ke arah entah.

Saat taman terlelap,prajurit itu tetap terjaga.
Menjaga bunga bunga dengan busur cahaya.
Ia meliuk liuk merenangi lautan malam.
Sesekali ia berkedip,sembari melempar sinarnya ke arah entah.

Kunang,di padang ilalang.
Singgahlah di pundakku,menggempur lelahku.
Dan biarkan sinarmu,menumbuhkan sayap sayap jiwaku.
Menembus dadaku,menerabas semua debu di mata hatiku.
Ah..biarkan diri,lelap dalam pelukan cahanya.
Mengistirahatkan letihnya jiwa,melepas semua kebekuan.