Hujan mericis,pagi ini.
Garis garisnya patah di ujung tanah.
Membasahi tandus menumbuhkan daun
Mentari malu lalu sembunyi,di
balik gugusan awan.
Maka biarkan hujan menyuarakan rinainya.
Menyejukkan nurani.
Membasuh sukma,dan menumbuhkan murni cinta.
Hingga aku terdampar di atas batu.
Menyelami angin
pagi,menemukan damai hati.
Dan biarkan aku berbaring di sela sela
bunga bunga.
Merenangi harum kudusnya,membasuh jiwa dengan kasihnya.
Menyepuh mata dengan indah langitnya.
Melepas semua,letihnya
raga.
Ah kupinta bunya yang sederhana.
Kelak kan kusematkan di
hati yang terkasih.
Bukan bunga yang terindah,
sebab yang
terindah milik sang kumbang raja.
Sedang aku hanya peminta,yang
kadang amat durhaka.
Yang tak pernah puas dengan 1 atau 2
bunga,bahkan segenggam permata.
Saat taman terlelap,prajurit
itu tetap terjaga.
Menjaga bunga bunga dengan busur cahaya.
Ia
meliuk liuk merenangi lautan malam.
Sesekali ia berkedip,sembari
melempar sinarnya ke arah entah.
Saat taman terlelap,prajurit itu tetap terjaga.
Menjaga bunga bunga
dengan busur cahaya.
Ia meliuk liuk merenangi lautan malam.
Sesekali ia berkedip,sembari melempar sinarnya ke arah entah.
Kunang,di padang ilalang.
Singgahlah di pundakku,menggempur lelahku.
Dan biarkan sinarmu,menumbuhkan sayap sayap jiwaku.
Menembus
dadaku,menerabas semua debu di mata hatiku.
Ah..biarkan diri,lelap
dalam pelukan cahanya.
Mengistirahatkan letihnya jiwa,melepas semua
kebekuan.
Puisi Hati
Showing posts with label di. Show all posts
Showing posts with label di. Show all posts
Monday, October 31, 2011
Sunday, September 18, 2011
Doa ibu di sudut pilu
Duh Gusti Allah sesembahan hamba
Di hadapanmu hamba bersimpuh
Di hadapanMu hamba mengeluh
Hamba tau hamba terlalu banyak meminta
Hamba tau hamba mungkin tak lagi pantas m,eminta
Hamba tau masa lalu hamba berjubah dosa
Kau juga tau hamba tidur di ranjang nista
Dengan air mata yang menggenang
Lalu jatuh tetes demi tetes
Di balik suram yang membayang
Dengan membawa dosa yang mengambang
Duh GUsti Allah yang maha pengampun
Disela sela malam hamba berdoa
Di kepak sayap awanmu
Pada semut semut yang memanjat tiang langit hamba titipkan
Hamba resah mata hamba sembab membasah
Hamba di landa risau gundah
Saat hamba melihat hati hati
Anak manusia memutus tali silaturahmi
Hamba sungguh kalut
Hamba sungguh takut
Keberanian haqmba mengkerut
Nyali hamba keriput ciut
Kesombangan hamba luluh lantak
Hamba sungguh kalut dan takut
Saat melihat anak manusi menampar ibunya
Saat mereka menendang tubuh renta yahnya
Lalu mereka mengusirnya dan berkata
"Pergi kau nenek kekek tua''
Dengan tatapan ber api api
Hamba sungguh takut
Bila Engkau timpakan bala
Hamba sungguh takut bila
Engaku murka lalu berkata
" Pergi kau dari kolong langitku"
Lalu kemana kami pergi
Kemana kami harus berlari
Kaemana kami harus sembunyi
Semua miliknu
Seisi alam semesta adalah kepunyaanmu
Duh Gusti Allah yang maha welas asih
Semoga embun embun maaf-Mu senantiasa turun
Karena Engkau maha pengampun
Semoga masih ada kabut ampunanmu
Masih Kau beri tuk menghapus rajah rajah dosa
Hamba takut engkau mengunci pintu maaf-Mu
Hamba takut bila nanti Kau mentutup pintu ampunmu
Hamba takut bila Engkau tak lagi merahmati kami
Mau jadi apa kami tanpa rahmatmu
Duh Gusti Allah yang maha memberi
Apunilah dosa dosa hamba
Anak cucu hamba
Semoga masih ada tetes tetes maaf,
Untuk hambamu yang tak tau malu
Dan tau balas budi ini
Subscribe to:
Posts (Atom)
